Ancaman Krisis Pangan: Wakil Bupati Nias Selatan Firman Giawa Gerakan Petani

Ancaman krisis pangan dunia, Wakil Bupati Nias Selatan Firman Giawa melalui pemerintah kabupaten menggerakan para petani, produk tani.

Wakil Bupati Nias Selatan Firman Giawa saat bersama pengunjung dan pedagang Pasar Jepang Telukdalam, 25 Januari 2024. [Doku: FG/LiniEkonomi]

LiniEkonomi.com - Masyarakat Nias Selatan mendapat dorongan dari pemerintah daerah setempat. Bahkan belum lama ini, Wakil Bupati Nias Selatan, Firman Giawa meminta para petani.

Agar menggembangkan lahan pertanian secara mandiri. Wakil Bupati Nias Selatan (Nisel) Sumatera Utara itu mengaku, pemerintah kabupaten bakal memberikan bantuan tani kepada para petani via dana APBD.

Semangat tersebut Firman Giawa sampaikan, saat bercengkrama dan meninjau langsung kegiatan kelompok tani Latani di Desa Ndraso Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Sumut Jumat (5/4/2024) lalu.

Wakil Bupati Nisel Firman Giawa berharap produktivitas pertanian semakin berkembang, dan para petani dapat mandiri dengan hasil pertanian, salah satunya cabai.

Harapan tersebut seiring dengan perubahan iklim yang mengancam masyarakat dunia, salah satunya ancaman krisis pangan.

Ancaman krisis pangan rupanya bukan isapan jempol semata, bahkan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengimbau agar pemerintah daerah di Indonesia untuk melakukan mitigasi dan adaptasi.

Sebab, perubahan iklim tidak hanya mengancam salah satu sektor saja, seperti pertanian. Melainkan banyak dampak dari pemanasan global tersebut, yang mengakibatkan masyarakat dunia maupun Indonesia kelaparan di masa mendatang, sebut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.

Justru perlu mitigasi dan adaptasi sejak sekarang sambung Dwikorita Karnawati. Rita, sapaan dari Kepala BMKG itu, bahwa terdapat 8 fokus adaptasi untuk segera terlaksana.

Kedelapan adaptasi hadapi ancaman pergerakan perubahan iklim antara lain ketahanan pangan, air, ekosistem, kesehatan, permukiman pedesaan dan perkotaan, kemudian pesisir maupun pulau kecil serta energi.

Baca Juga: Inggris Krisis! Turunkan Harga Energi 500 Ribu per Tahun

"Yang kedelapan peningkatan kapasitas pemangku jabatan dan masyarakat daerah," terang Dwikorita, lulusan Sarjana Teknik Geologi, UGM itu.

Berdasarkan laporan Bappenas kutip LiniEkonomi, Minggu (7/4/2024) bahwa perubahan iklim atau pemanasan global mampu menekan produksi padi.

Bencana Kelaparan Mengancam Indonesia?

Indonesia saat ini telah merasakan dampaknya, salah satunya dengan turunya produksi padi mulai dari kisaran 1,13 juta ton sampai 1,89 juta ton. Bukan itu saja, lahan pertanian dengan luas 2.256 hektar sawah kini terancam kekeringan.

"Bilamana ancaman ini dianggap sepele, dan tidak ada kemandirian adaptasi menggembangkan produktivitas lahan pangan. Maka ramalan Badan Pangan dan Pertanian Dunia terkait bencana kelaparan di tahun 2050 bisa jadi nyata," ungkap Dwikorita.

Salah satu peneliti di Indonesia, Ardhasena Sopaheluwakan mengemukakan, peran serta kepala daerah sangat penting. Selain itu, masyarakat perlu memahami tentang ancaman maupun dampak dari perubahan iklim.

"Maka perlu meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak ancaman bencana. Pemerintah daerah perlu berperan aktif untuk mengembangkan produksi pangannya, baik itu para kelompok tani maupun kelompok individual untuk menunjang pangan masyarakat di masing-masing daerahnya serta nasional," jelas Ardhasena.

Baca Juga: Bulog dan Pemerintah Gencar Lakukan Intervensi Pasar Pangan

Salah satu contoh seperti di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) saat ini, pemerintah daerah mulai membenahi lahan pertanian, meningkatan produktivitas pertanian guna meminimalisir dan mengantisipasi ancaman bencana kelaparan akibat efek perubahan iklim (climate change). [*]

Baca Juga

LiniEkonomi.com - Berikut panduan lengkap bagaimana cara menghitung harga emas pegadaian, rahasia investasi emas.
Harga Emas Siang Ini, Kamis 20 Juni 2024
LiniEkonomi.com - Telkomsel 'Sambungkan Senyuman': 43.000 penerima manfaat untuk 600 lokasi se-indonesia, dalam momen Iduladha 1445 H.
Idul Adha: Telkomsel Sambungkan Senyuman 43.000 Penerima Manfaat di 600 Lokasi Se-Indonesia
LiniEkonomi.com - Berikut 10 saham bikin tajir melintir, bahkan akhir pekan ini harganya pun mantul sampai 18 persen.
10 Saham Bikin Tajir Mantul Benar, BBRI Top Gainers
LiniEkonomi.com - Indeks-indeks utama Wall Street melonjak pada perdagangan Jumat (26/4/2024) kemarin. Pemangkasan Suku Bunga
Indeks Wall Street Merangkak Naik, Ekonom: Pemangkasan Suku Bunga The Fed Masih Jauh
Ekonomi Indonesia Bisa Disrupsi Akibat Timur Tengah: Minyak dan LPG Bakal Langka?
Gawat! Ekonomi Indonesia Bisa Disrupsi Akibat Timur Tengah: Minyak dan LPG Bakal Langka?
LiniEkonomi.com - Harga emas spot dunia mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Jumat sore, 26 April 2024 pukul 16:54 WIB.
Harga Emas Dunia Melesat Tinggi, Jumat Sore 26 April 2024