Bursa Asia Pasifik Berjalan Campur Adu, Pengaruh Komentar Powell dan Data Inflasi

LiniEkonomi.com - Mayoritas bursa saham Asia menguat kuat pada penutupan perdagangan Jumat (26/04/2024) sore ini.

Ilustrasi bursa saham Asia [Ilustrasi/Canva/LiniEKonomi]

LiniEkonomi.com, Jakarta - Bursa Asia Pasifik menunjukkan pergerakan beragam pada hari Rabu (10/7/2024), dengan beberapa indeks utama mengalami penurunan sementara yang lain menguat.

Pergerakan ini terjadi di tengah komentar dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell dan rilis data inflasi dari China dan Jepang.

Pergerakan Utama:

Indeks Nikkei 225 Jepang turun sedikit dari rekor tertinggi sepanjang masanya, sementara indeks Topix bergerak datar.

Adapun Kospi Korea Selatan dan Kosdaq berkapitalisasi kecil mengalami penurunan. S&P/ASX 200 Australia juga turun tipis. Indeks Futures Hang Seng Hong Kong menunjukkan kenaikan.

Faktor Pendorong:

Komentar Dovish Jerome Powell jadi pemicu, yang menyarankan kehati-hatian dalam menaikkan suku bunga terlalu tinggi mendorong kenaikan di Wall Street pada malam sebelumnya. Namun efeknya di Asia Pasifik terlihat beragam.

Data Inflasi China dan Jepang membuat investor mencermati data inflasi China dan Jepang yang rilis hari ini.

Inflasi China kemungkinan sedikit meningkat menjadi 0,4 persen (%), sedangkan inflasi Jepang diprediksi naik tipis menjadi 2,1 persen (%).

Obligasi Konversi Ping An Insurance, ini salah satu rencana Ping An Insurance untuk menerbitkan obligasi konversi senilai hingga $5 miliar menarik perhatian investor di Hong Kong.

Baca Juga: IHSG Menghijau Sesi Pertama 9 Juli, Saham BUMN dan Baterai Melesat

Analisis Pasar

Bursa Asia Pasifik masih bereaksi terhadap berbagai faktor global dan regional. Komentar dovish Powell memberikan sedikit kelegaan bagi investor, namun data inflasi dan prospek ekonomi global masih menjadi fokus utama.

Pergerakan bursa Asia Pasifik kemungkinan akan memengaruhi beberapa hal. Simak ulasan dan beberapa hal pengaruh atas pergerakan bursa Asia-Pasifik.

  1. Hasil data inflasi China dan Jepang: Data ini akan memberikan gambaran tentang tekanan inflasi di kedua negara dan dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter.
  2. Perkembangan di AS: Investor akan terus memantau komentar dan kebijakan The Fed, serta pergerakan di pasar keuangan AS.
  3. Sentimen risiko global: Peristiwa geopolitik dan perkembangan ekonomi global lainnya juga dapat memengaruhi sentimen investor di Asia Pasifik.

Baca Juga: Hari Ini Bursa Asia Hijau, Efek Wall Street Pecahkan Rekor Baru

Kesimpulan:

Bursa Asia Pasifik masih dalam fase konsolidasi dan pergerakannya dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Investor perlu mencermati data dan peristiwa yang muncul untuk membuat keputusan investasi yang tepat. Liniekonomi.com tidak bertanggungjawab atas untung atau kerugian yang kamu dapatkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber Artikel : marketwatch.com

Baca Juga

KEREN! Visa Siap Gebrak Pasar Saham 12 Bulan Depan
KEREN! Visa Siap Gebrak Pasar Saham 12 Bulan Depan
Saham Eropa melemah di tengah sentimen negatif, sementara Wall Street mencatat rekor baru. Simak dinamika pasar global terkini dan dampaknya terhadap berbagai sektor industri.
Saham Eropa Melemah, Wall Street Positif: Dinamika Pasar Global
Resorts Milik Putra Bungsu Soeharto Bidik IPO, Cuan Rp 390 Miliar
Resorts Milik Putra Bungsu Soeharto Bidik IPO, Cuan Rp 390 Miliar
Indeks Kospi Korsel bertengger di 2.664,27 pada Kamis (22/2/2024), naik 0,41% dipicu saham teknologi pascalebih Nvidia AS. Emiten teknologi & otomotif Korsel menggeliat.
IHSG Naik Tipis di Tengah Pasar Asia Pasifik yang Beragam
Indeks utama bursa saham di Wall Street mencatat rekor tertinggi, sementara saham-saham Asia berfluktuasi pada perdagangan Kamis (28/3/2024). Mari simak perkembangannya.
Hari Ini Bursa Asia Hijau, Efek Wall Street Pecahkan Rekor Baru
Indeks Kospi Korsel bertengger di 2.664,27 pada Kamis (22/2/2024), naik 0,41% dipicu saham teknologi pascalebih Nvidia AS. Emiten teknologi & otomotif Korsel menggeliat.
Bursa Asia Menghijau Ikuti Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi