Kemungkinan Permintaan Bitcoin Melonjak dari Investor

LiniEkonomi.com - Kabar terbaru saat ini besar kemungkinan Bitcoin melonjak dari investor. Infonya melonjak beberapa bulan kedepan tahun ini.

Orang-orang menyambut naiknya harga Bitcoin atas dorongan ETF. [Ilustrasi/AI]

LiniEkonomi.com - Kabar terbaru saat ini besar kemungkinan Bitcoin melonjak dari investor. Infonya melonjak beberapa bulan kedepan tahun ini.

Efek melonjaknya Bitcoin lantaran dana baru dari penasihat investasi terdaftar (RIA). Lonjakan permintaan ini, acap terjadi karena guncangan permintaan positif, sehingga dapat memicu aliran modal besar ke pasar Bitcoin.

James Butterfill, Kepala Penelitian di CoinShares menjelaskan, lonjakan ini berkaca pada data memperlihatkan permintaan tersebut.

Ia menyebutkan bahwa exchange-traded fund (ETF) Bitcoin belum dapat terakses pasar RIA.

Platform dana RIA biasanya memerlukan tiga bulan data perdagangan sebelum dapat menyertakan ETF yang baru. Oleh karena itu, ketika ETF tersebut menjadi aksesibel, dapat terjadi lonjakan investasi dari pasar RIA.

Saat ini, hanya Carsen Group, sebuah perusahaan penasihat investasi. Mengizinkan perdagangan ETF Bitcoin. Mengingat pasar RIA mewakili sekitar 50 triliun dalam aset, potensi aliran dana dapat sangat besar.

Misalnya, jika 10 persen RIA memilih untuk menginvestasikan 1 persen dari portofolio mereka ke Bitcoin, itu dapat menghasilkan sekitar $50 miliar aliran dana tambahan, keren bukan.

Permintaan dan Penawaran Bitcoin

Butterfill juga menyoroti dinamika permintaan yang meningkat dan penawaran yang menurun di pasar Bitcoin. Peluncuran beberapa ETF spot Bitcoin, 11 Januari mencatat permintaan harian rata-rata 4500 Bitcoin, sementara hanya rata-rata 921 Bitcoin baru per hari.

Pasokan Bitcoin yang baru dicetak tidak dapat mengimbangi permintaan, sehingga penerbit ETF harus mendapatkan Bitcoin terutama dari pasar sekunder.

Data menunjukkan bahwa kepemilikan koin di meja over-the-counter (OTC) telah turun 74 persen dari puncaknya pada 2020, kemungkinan karena permintaan ETF.

Pekan lalu, ETF spot Bitcoin AS mencatat rekor aliran masuk. Secara gabungan, sepuluh ETF spot Bitcoin mencapai aliran masuk $2,57 miliar, naik 15 persen dari pekan sebelumnya.

IBIT dari BlackRock menghasilkan aliran masuk 2,48 miliar dolar AS, diikuti FBTC dari Fidelity dengan 717,9 juta USD dan HODL dari VanEck dengan 247,8 juta dolar AS.

Namun, dana GBTC yang dikonversi Grayscale menyaksikan aliran keluar 1,25 miliar USD, dan BTCO dari Invesco juga menyumbang aliran keluar 29,4 juta USD. Sejak perdagangan ETF spot Bitcoin dimulai pada 11 Januari, total aliran masuk bersih telah melebihi $12 miliar.

Baca Juga: Bitcoin Tembus 1 Miliar Lebih, Euphoria Investor Meningkat Drastis

Aset digital terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini telah meningkat 1,92 persen dalam 24 jam terakhir. Dengan nilai dagang 68.200 USD.

Sementara Indeks GM 30 yang mewakili 30 kripto teratas juga meningkat 2,45 persen ke 152,93 dalam 24 jam terakhir. [*]

Baca Juga

Ketegangan antara Iran dan Israel meningkat pada Sabtu malam setelah Iran melancarkan serangan terhadap Israel. Akibatnya, harga Bitcoin anjlok lebih dari 7% sebelum pulih sebagian.
Ketegangan Iran-Israel Picu Harga Bitcoin Terjun 4,6 Persen
El Savador memakai mata uang kripto (Bitcoin) sebagai alat pembayaran. Rupanya Bali, Indonesia juga memakai mata uang kripto untuk transaksi setiap pembelian barang jasa
Indonesia vs El Salvador: Kripto di Bali Gagal, Bitcoin di El Savador Bertahan?
Plastik biasa kabarnya mampu menyimpan data penting kamu, termasuk dompet Bitcoin (Bitcoin Wallet), memakai teknologi holografik.
Plastik Biasa Mampu Menyimpan Data Rekening, Kok Bisa?
Studi terbaru kali ini tentang apakah mata uang kripto bisa jadi alat pembayaran yang sah? simak ulasan berikut tentang apakah mata uang digital menggantikan mata uang tunai.
Mata Uang Kripto Bisa Jadi Alat Pembayaran Sah?
LiniEkonomi.com - Kabar terbaru saat ini besar kemungkinan Bitcoin melonjak dari investor. Infonya melonjak beberapa bulan kedepan tahun ini.
Apa Yang Dimaksud dengan Bitcoin Halving? Simak Ulasan Pakar Ini
LiniEkonomi.com - Perang hukum antara Badan Pengawas Sekuritas AS (SEC) dengan Ripple masih terus memanas. SEC sendiri sudah mengajukan tuntutan akhir,
Perang Hukum Antara Ripple dan Sekuritas SEC Terus Memanas